taik

Dari Gotong Royong di Bogor, Relawan Muda Soroti Pentingnya Hunian Layak

Dari Gotong Royong di Bogor, Relawan Muda Soroti Pentingnya Hunian Layak

Kebutuhan rumah yang belum terpenuhi menjadi perhatian dalam kegiatan 28UILD 2026, yang mengajak generasi muda turun langsung bersama masyarakat.

Melalui aksi bersama di Bogor dan Gresik, Habitat for Humanity Indonesia mengangkat isu hunian layak sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.

Kegiatan tahunan itu berlangsung serentak pada Sabtu (31/10), dengan melibatkan lebih dari 250 relawan dalam berbagai aktivitas gotong royong.

Para relawan melakukan pengecatan, menanam pohon, dan membuat lubang biopori sebagai upaya mendukung resapan air serta menjaga keseimbangan lingkungan.

Aksi tersebut menjadi bagian dari kampanye Let’s Open the Door: Youth in Action for Decent Housing, yang mendorong perhatian anak muda.

Mutasi 264 Perwira Polri, Sofyan Nugroho Ditugaskan di KAI

Kampanye itu mengajak generasi muda mengenali persoalan perumahan, menumbuhkan kepedulian, dan menggerakkan lebih banyak orang untuk bertindak bersama.

Bagi sobat yang mengikuti kegiatan tersebut, aksi sederhana menjadi ruang untuk melihat lebih dekat hubungan hunian layak dengan kehidupan keluarga.

Habitat for Humanity Indonesia menyatakan, keterlibatan bersama diharapkan membantu membuka kesempatan hidup yang lebih baik bagi keluarga Indonesia.

Dorongan itu hadir di tengah kebutuhan perumahan nasional yang masih besar. Perkiraan kebutuhan mencapai sekitar 9,9 juta unit rumah.

Selain backlog tersebut, 17,8% rumah tangga menghadapi beban biaya perumahan yang tinggi, menurut data yang disampaikan dalam kegiatan.

Gelombang Laut Berpotensi Capai 4 Meter, Ini Wilayah yang Perlu Diwaspadai

Data lain menunjukkan 19,4% penduduk perkotaan tinggal di kawasan kumuh atau permukiman informal di Indonesia.

Angka-angka itu menggambarkan beragam sisi persoalan, mulai dari ketersediaan rumah hingga biaya yang harus ditanggung rumah tangga.

Informasi mengenai kondisi perumahan juga tercantum dalam riset global Habitat for Humanity berjudul Home at What Cost?.

Riset itu dilaksanakan Habitat for Humanity International di 22 negara dan melibatkan 30.758 responden secara keseluruhan.

Untuk Indonesia, 73% responden menyebut pernah mengurangi pengeluaran setidaknya pada satu aspek kehidupan selama setahun terakhir.

Unggahan Wulyda Agustyn soal Mundur dari Dishub Malang Ramai Dibahas

Pengurangan pengeluaran itu dilakukan untuk memenuhi biaya perumahan, menurut temuan riset yang dijelaskan dalam informasi kegiatan.

Sementara itu, 49% responden di Indonesia mengaku khawatir keadaan tak terduga bisa mengancam keberlangsungan mereka memiliki atau menempati rumah.

Sebanyak 41% responden juga merasa cuaca ekstrem menyulitkan mereka untuk merasa aman di tempat tinggalnya.

Rangkaian angka tersebut menjadi konteks bagi kampanye yang mengajak masyarakat memberi perhatian pada akses terhadap hunian layak.

Kampanye Let’s Open the Door menghubungkan ajakan memahami persoalan dengan langkah bersama, termasuk keterlibatan generasi muda dalam 28UILD.

Penyelenggara menempatkan gotong royong dan kolaborasi sebagai bagian dari upaya mengajak lebih banyak orang mengambil peran.

Semangat kegiatan itu dikaitkan dengan momentum Sumpah Pemuda, yang mengingatkan pentingnya persatuan dan kepedulian melalui aksi nyata.

Handoko Ngadiman, Direktur Nasional Habitat for Humanity Indonesia, menyampaikan ajakan tersebut saat membuka kegiatan 28UILD 2026.

“Melalui 28UILD, kami ingin mengajak generasi muda menyadari bahwa setiap orang dapat berperan dalam mewujudkan hunian layak.”

Handoko mengatakan semangat gotong royong dan kolaborasi dapat membuat aksi sederhana menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar.

28UILD 2026 merupakan penyelenggaraan ke-13 kegiatan tersebut, yang pertama kali digelar pada 2012 sebagai ruang keterlibatan masyarakat.

Hingga 2026, kegiatan ini telah melibatkan lebih dari 250 relawan dan membantu lebih dari 500 keluarga.

Keluarga yang terbantu tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Tangerang, Bogor, Gresik, Yogyakarta, dan Batam.

Salah satu relawan, Aisha, mengatakan keikutsertaannya tahun ini menjadi pengalaman pertama mengikuti kegiatan 28UILD.

Ia menyebut kegiatan tersebut memberinya pemahaman mengenai pentingnya perhatian terhadap hunian dan lingkungan sekitar.

“Ini kali pertama saya mengikuti 28UILD dan dari sini saya belajar bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah sederhana.”

Aisha juga mengatakan baru menyadari masih banyak keluarga di Indonesia yang kesulitan mengakses rumah layak.

Menurutnya, generasi muda perlu menyuarakan pentingnya rumah layak huni bagi semua, sebagai bagian dari kepedulian bersama.

Ringkasan angka: kebutuhan rumah nasional sekitar 9,9 juta unit; 17,8% rumah tangga menanggung biaya perumahan tinggi; 19,4% warga perkotaan tinggal di kawasan kumuh atau permukiman informal.

Dalam riset Indonesia, 73% responden mengurangi pengeluaran untuk membayar perumahan; 49% khawatir kondisi tak terduga mengancam tempat tinggal; 41% merasa cuaca ekstrem mengurangi rasa aman.

Kegiatan 28UILD 2026 berlangsung di Bogor dan Gresik, melibatkan lebih dari 250 relawan, serta mencakup pengecatan, penanaman pohon, dan pembuatan lubang biopori.

Melalui kegiatan dan kampanye tersebut, Habitat for Humanity Indonesia mengajak generasi muda memahami persoalan perumahan dan ikut menumbuhkan kepedulian terhadap hunian layak.

×
×