Kebakaran gambut membutuhkan penanganan berbeda dari kebakaran hutan biasa. Api dapat merambat di bawah permukaan tanah dan sulit dijangkau.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Mohammad Fauzan Adziman, menyebut satu kilogram gambut terbakar memerlukan sedikitnya enam liter air.
Untuk luasan satu hektare, kebutuhan airnya dapat mencapai jutaan liter. Perkiraan tersebut merujuk pada kalkulasi Guru Besar Universitas Indonesia.
Fauzan menyampaikan penjelasan itu dalam paparan menjelang Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia atau KSTI 2026 di Jakarta, Senin, 2 November 2026.
“Jadi si apinya itu dia enggak di permukaan, tapi bisa di bawah, di dalam,” ujar Fauzan.
Api gambut bisa menyala dan bergerak di dalam tanah, bukan hanya berkobar di permukaan seperti kebakaran hutan biasa.
Karakter tersebut berkaitan dengan lapisan gambut yang terbentuk dari tumpukan ranting selama puluhan ribu tahun.
Infografik teks: satu kilogram gambut terbakar membutuhkan minimal enam liter air; kebakaran satu hektare bisa memerlukan jutaan liter.
Besarnya kebutuhan air itu mendorong pemerintah menyiapkan riset dengan tiga fokus utama, mulai dari pengelolaan hingga pemadaman.
Fokus pertama menyasar pengelolaan serta produktivitas lahan gambut. Pemerintah berupaya menghidupkan kembali basis data terkait kawasan tersebut.
Riset juga akan memetakan aliran air yang menyerupai sungai bawah tanah. Keberadaannya rentan terganggu ketika fenomena El Nino terjadi.
Pengelolaan lahan tidak hanya diarahkan untuk menjaga gambut. Pemerintah juga ingin mendorong pemanfaatan produktif bagi masyarakat sekitar.
Harapannya, lahan gambut dapat tetap dikelola sekaligus memberi peluang peningkatan ekonomi warga di sekitarnya.
Fokus kedua adalah prediksi dan deteksi dini kebakaran. Pemerintah menilai mencegah api meluas lebih penting daripada mengandalkan pemadaman.
Upaya pemantauan akan menggunakan informasi suhu, kelembapan, serta data satelit untuk memahami kondisi lapangan.
Dalam pengembangan riset, pemerintah juga mendatangkan peneliti diaspora Indonesia dari Inggris, Gus Mulyadi.
Selain pemantauan tersebut, para peneliti mengembangkan pesawat tanpa awak bernama Palapa untuk mengumpulkan data lapangan.
UAV Palapa dirancang mampu terbang tinggi selama berjam-jam. Kemampuan itu diharapkan mendukung pemantauan secara lebih presisi.
“Deteksi dini ini menjadi kunci karena dengan pemahaman temperatur dan kelembaban, perkembangan kebakaran sedikit demi sedikit bisa kita pahami,” kata Fauzan.
Fokus ketiga membahas penanganan kebakaran dan metode pemadaman yang sesuai dengan karakter lahan gambut.
Menurut paparan tersebut, water bombing lebih efektif digunakan pada lahan non-gambut. Karena itu, pendekatan untuk gambut diarahkan berbeda.
Strategi pemadaman gambut akan mengutamakan pemanfaatan sumber air bawah tanah, sesuai tantangan api yang dapat berada di dalam tanah.
Pemerintah juga mendorong penyediaan pompa air di kawasan hutan yang berdekatan dengan desa.
Pompa tersebut diharapkan membantu menahan penyebaran api. Rincian efektivitasnya tetap menjadi bagian dari penelitian yang sedang disiapkan.
Sejumlah inovasi lokal turut diuji, termasuk bahan alami seperti singkong dan umbi-umbian serta larutan kimiawi.
Peneliti akan menilai efektivitas setiap solusi berdasarkan lokasi sumber api, tingkat urgensi, biaya, dan kelayakan penerapan lebih luas.
Penilaian skala penerapan atau scale up diperlukan untuk mempertimbangkan apakah solusi dapat digunakan dalam cakupan lebih besar.
Bagi sobat yang mengikuti isu ini, pemerintah juga menyiapkan jalur pengajuan riset terarah melalui pendaftaran proposal.
Kemdiktisaintek berencana membuka call for proposal tersebut mulai Januari tahun depan, setelah paparan menjelang KSTI 2026.
Riset yang diajukan akan melibatkan pemerintah daerah dan badan terkait. Masyarakat yang menjadi pengguna di lapangan juga akan digandeng.
Kemdiktisaintek menyebut masyarakat sebagai pihak pengguna atau off-taker, bersama para pemangku kepentingan yang terlibat dalam penanganan.
Pendekatan itu diharapkan membuat penelitian terhubung dengan kebutuhan pengguna di lapangan, termasuk dalam menguji pilihan penanganan.
Rencana riset berbasis sains ini juga akan dipresentasikan dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2026.
Melalui tiga fokus tersebut, pemerintah menaruh perhatian pada pengelolaan lahan, pengenalan risiko, dan pilihan pemadaman gambut.
Kebutuhan air yang besar menjadi salah satu alasan penanganan perlu memperhitungkan kondisi gambut, bukan sekadar memadamkan api permukaan.

